Investigasi Harimau Jawa di Jember 2012

Investigasi Harimau Jawa di Jember 2012


Latar  Belakang

Investigasi Keberadaan Harimau Jawa (Panthera sondaica javanica) di hutan lindung RPH Sumbersalak Jember Jawa Timur dilakukan Peduli Karnivor Jawa (PKJ) sebagai respon dari surat Danang Anggoro (Staf BKSDA Kalimantan Timur). Surat Danang dialamatkan ke Face Book penulis “didikpkj06@yahoo.co.id”, yang berasal dari e-mail di Web Kemenhut kiriman Pak Pipit Guru SD 01 Sempolan Jember, Jawa Timur.

 Di bawah ini bunyi petikan surat dari Pak Pipit:

 “assalamu'alaikum bapak menteri ... 1 minggu yang lalu teman saya ingin membuktikan kalau di hutan daerah sumbersalak kec ledokombo kab jember jatim ada seekor harimau, setelah dibuktikan memang betul ada seekor harimau besar mirip dengan seekor singa (kepalanya karena rambutnya tebal) tetapi loreng merah keemasan, hitam persis dgn harimau sumatera tetapi badanya besar seperti anak sapi dewasa dan jejaknya besar pula (mungkin harimau jawa yg dikabarkan punah) dan menurut kabar daerah setempat para pencuri kayu di hutan mencari pemburu yang bisa membunuh hewan tersebut karena beberapa hari yang lalu seorang pncuri kayu bertemu dgn hewan tersebut dan sensonya ditinggalkan disana selama dua minggu karena ketakutan ... mohon bantuannya untuk diselidiki (kalo benar itu hewan yang dikabarkan sudah punah maka perlu dijaga dan dilestarikan) nama teman saya edi supriadi guru satu sekolah dng saya di sdn sempolan 01 silo jember, ini no hp saya 081252779595. mohon dilindungi hewan dan hutan kami." pipit suryani, m.pd. Rabu, 18/01/2012 - 08:30 | E-mail

Lokasi terlihatnya harimau jawa Januari 2012
Lokasi terlihatnya Harimau Jawa Januari 2012


Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan Investigasi dilaksanakan tanggal 7 – 25 Maret 2012. Lokasi pemantauan Petak 112 Hutan Produksi dan Petak 127 Hutan Lindung kawasan RPH Sumbersalak, BKPH Sempolan, KPH Jember Jawa Timur.


Alat

Peralatan yang digunakan meliputi: Kamera Digital, GPS Garmin, Kompas Orientasi, Kamera trap CamDeer Tipe DC-200 dan Parang tebas.

Pemasangan kamera Trap di Habitat Harimau jawa 2012
Pemasangan kamera Trap di Habitat Harimau Jawa 2012


Metodologi

Pelaksakan kegiatan Investigasi dan Pemantauan Harimau Jawa ini menggunakan pendekatan:

  1. Wawancara Mendalam
  2. Survey Cepat Habitat
  3. Pemasangan Kamera Trap


Hasil   Kegiatan

Pendekatan yang digunakan PKJ dalam merespon informasi ini dengan melakukan wawancara mendalam terhadap saksi penduduk lokal. Sebab penduduk lokal disekitar kawasan penelitian berinteraksi terus menerus di dalam habitat harimau jawa.

Wawancara mendalam dilakukan terhadap 12 orang yang dijumpai di lokasi penelitian dan mengaku pernah melihat harimau jawa dan macan tutul. Masyarakat lokal menyebut harimau jawa dengan ‘macan lareng’, sedangkan macan tutul dengan sebutan ‘macan tol-tol’ (penamaan ini selanjutnya digunakan penulis). Dari duabelas orang tersebut dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Pesanggem Residen: 4 orang (2 orang laki-laki, 2 orang perempuan). Dimana 3 orang mengaku pernah berpapasan dengan macan lareng sekitar tahun 1982, 2000 dan 2010. Sedangkan yang seorang hanya mengaku berpapasan dengan macan tol-tol dan macan kombeng.
  2. Pemburu Kijang: 1 orang. Bersaksi hampir sering bertemu dengan macan tol-tol ataupun kombeng saat ‘mbelor’ kijang. Sedangkan kalau bertemu macan lareng hanya jika ‘mbelor’ di hutan lindung kawasan Sekopeng. Akan tetapi pada Februari akhir tahun 2012 mengaku melihat macan lareng di bukaan ladang kopi sisi timur (150 meter) dari rumah pesanggem yang terdekat dengan hutan lindung.
  3. Pendarung Ladang Kopi: 4 orang (semua laki-laki). Walaupun sebagai pendarung ladang kopi, 2 orang diantaranya mempunyai ‘pekerjaan’ mencari madu lebah di dalam hutan saat musim kemarau. Pernyataan yang kuat hanya diperoleh dari dua orang yang mencari madu ini, bahwa macan lareng itu kalau musim penghujan seperti sekarang posisinya berada jauh di dalam hutan lindung, bahkan sampai mendekati hutan cemara di bawah daerah bebatuan Gunung Raung yang tidak bervegetasi. Sedangkan kalau musim kemarau nanti, harimau jawa itu ada yang turun ke sumber mata air di dekat ladang-ladang kebun kopi yang baru ditanam sejak th 2010.
  4. Pemburu Burung: 1 orang (laki-laki). Juga senang berburu babi hutan dan kijang, dari Kalisat. Pemburu burung ini hanya menceritakan ulang pengalaman ayahnya yang pernah berpapasan dengan macan lareng ‘rajeh’ (bahasa Madura artinya besar) di lokasi Gunung Kenik arah Tenggara dari Petak 112. Diceritakan bahwa kejadiannya sekitar tahun 1977 di dekat rumpun bambu.
  5. Pak Mandor : 2 orang. Seorang mengaku menjumpai jejak tapak kaki macan tol-tol saat musim kemarau 2011. Beliaunya yang seorang lagi mengaku selain ketemu jejak kaki macan tol-tol juga jejak kaki macan dengan ukuran sekitar ‘selepek’ (­+ 13 cm) dan sepiring (+16 cm) bahkan sampai th 2002. Perjumpaan jejak sangat mudah disaat musim kemarau, sebab jalan setapak memiliki struktur tanah pasir berdebu. Salah Satu Pak Mandor mengaku, walaupun bertugas di hutan sejak 1974 sampai sekarang, hanya pernah sekali berpapasan langsung dengan macan lareng yang gembong di hutan pinus sekitar tahun 1979-an.


Indikasi Harimau Jawa

Dalam pengamatan langsung di habitat, penulis berhasil menjumpai 2 bekas garutan macan lareng di pohon. Satu lokasi didekat Pondok Seng dan satunya berada di blok kawasan hutan Sekopeng. Jejak dan feses belum dijumpai. Juga ditemukan bekas cakaran macan tutul di pohon yang bersebelahan dengan pohon cakaran macan lareng.

Indikasi "garutan" Harimau jawa di Sekopeng
Indikasi "garutan" Harimau Jawa di Sekopeng

Dua orang pesanggem ladang kopi juga mengaku sering melihat macan lareng yang sedang tidur dibawah pohon beringin di alur sungai curah (jurang), sebab sangat sulit bertemu dengan macan lareng kecuali macannya sedang tidur atau rebahan di lantai hutan. Keduanya juga menyakini bahwa bangkai babi hutan yang dijumpainya seminggu yang lalu diklaim sebagai ‘milik’ macan lareng, ditandai dari adanya penimbunan bangkai dengan serasah dan diseret masuk semak setelah dibunuh. Sedang kalau macan tol-tol, biasanya bangkai mangsanya dibawa naik pohon.

Prey

Hewan yang dijumpai keberadaannya di hutan lindung dan hutan produksi: babi hutan, kijang, lutung, monyet ekor panjang, musang, tupai, kucing hutan, ayam hutan hijau, merak, pelatuk bawang, pelatuk kedidi, saerah bendera batu, rangkong, cucak hijau, elang hitam, elang ular, jalak gunung, burung kacamata, prenjak, kedasih, punai, delimukan dan burung cipoh. Keberadaan hewan tersebut diketahui penulis dari perjumpaan langsung, mendengar suara langsung, menjumpai jejak tapak kakinya, menjumpai bekas/sisa aktivitas pemangsaan dan bau aroma yang ditinggalkan di habitatnya.

Sekopeng, lokasi yang dikepung jurang
Sekopeng, lokasi yang dikepung jurang.

Warga juga bertutur jika pernah dijumpai banteng yang telinganya ada tanda dari plat logam putih, berjumlah 2 ekor dan merusak tanaman jagung. Karena warga memahami bahwa banteng bertegging tersebut dilindungi oleh negara, maka tidak diganggu hanya dihalau ataupun dibiarkan. Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1995-an. Adapun sampai sekarang banteng-banteng itu tidak pernah dijumpai lagi.

Kamera Trap

Kamera trep yang dipasang selama dua minggu dilapangan, baru mendapatkan foto kijang dan aktivitas orang yang keluar masuk hutan. Kijang ini terpotret di lokasi “ekoton” hutan lindung dengan ladang kopi. Sedangkan kamera trap yang dipasang di hutan Sekopeng belum mendapatkan gambar satwa, walaupun telah dilengkapi dengan ‘umpan’ (dari bahan organik yang berbau busuk dan menyengat) bertujuan untuk memancing kehadiran satwa predator ke lokasi pemasangan kamera trap.

Muntiacus muntjak javanica di Ekoton Hutan Lindung
Muntiacus muntjak javanica di Ekoton Hutan Lindung


Rencana  Tindak  Lanjut

  1. PKJ selaku NGO-Lingkungan yang fokus pada kajian Karnivor di Jawa memandang perlu untuk dilakukan usaha pemantauan dan penelitian yang lebih mendalam atas kawasan hutan lindung petak 127 dan bahkan juga di perluas kesemua hutan di Lereng Gn Raung Jawa Timur dengan melibatkan Pecinta Alam dan Universitas yang ada di sekitarnya.
  2. PKJ bersedia melakukan ‘up-grading’ bagi teman-teman PEH BKSDA maupun Pecinta Alam di Jember atau se-Eks Karesidenan Besuki tentang Metode Pencarian dan Pengenalan Bekas Aktivitas Karnivor Besar (khususnya) dan Satwa Liar (pada umumnya).
  3. Perlu dilakukan pemantauan khusus saat musim Kemarau (sekitar bulan 8-9-10 th 2012) dengan melibatkan penduduk lokal sebagai guide lapang.
  4. Perlu didiskusi perihal mekanisme pemantauan secara berkelanjutan di hutan Lindung Gunung Raung oleh berbagai lembaga yang konsen di Konservasi Satwa Liar terutama yang berdomisili di sekitar Lereng Gn Raung dan di Jawa.


Ucapan  Terimakasih

Rasa syukur yang tak terkira kami panjatkan kehadirat ALLAH, SWT. atas limpahan rahmat, kekuatan dan kelancaran selama penulis melakukan kegiatan di lapangan sejak tanggal 7-25 Maret 2012.

Penulis juga mengucakan terimakasih kepada:

  1. Istriku tercinta Dewi Kurnianingsih, yang mendukung dan mengijinkan berkegiatan masuk hutan, walaupun jadwalnya seminggu menjadi hampir dua minggu lebih.
  2. Mas Anton Ario (CI-IP), yang memberikan pinjaman kamera trap CamDeer, sehingga penulis berangkat melakukan kajian investigasi.
  3. Mas Wahyu Giri (Kappala-Jatim), yang merekomendasikan kepada penulis untuk singgah ke Bidang KSDA Wilayah III Jawa Timur di Jember.
  4. Pak Nandar, selaku Ka. Bidang KSDA Wilayah III Jember atas diskusi dan bahan acuan awal bagi penulis untuk merunut kronologis Pelaporan Pengecekan Lokasi yang telah dilakukan Staf Bidang KSDA Wilayah III Jember dengan Perum Perhutani.
  5. Pak Indra Arinal, Ka. BTN. Baluran Banyuwangi, atas ‘suport’ dan ‘dukungan’ serta masukan idenya, sehingga penulis menambah seminggu dalam melakukan investigasi dan pemantauan keberadaan harimau jawa di lereng Gn. Raung ini.
  6. Pak Samsul, POLHUT, Ka. RKW Jember atas keramahan dan waktunya menemani penulis dan sarannya untuk perijinan ke Asper Perhutani Jember di Sumbersalak.
  7. Pak Kusnadi, Sepuran, atas inapannya semalam dan waktunya mengantar ke petak 112 serta menemani penulis melakukan survey ke lokasi di hutan lindung. Dan rekomendasi Pak Kus agar penulis bermalam di Mbah Amir, sangat penting artinya bagi kelancaran investigasi yang kami lakukan.
  8. Pak Sukarji, Sepuran, atas ‘ojek’nya dari Sepuran-Sumber Jati hingga Ledok Ombo petak 112.
  9. Pak Purnomo atas ‘sangu’nya, yang kami gunakan untuk pembelian bensin dan ojek.
  10. Mbah Amir sekeluarga, yang sangat ramah dan perkenannya ‘dirusuhi’ penulis selama dua minggu dalam berkegiatan dilapangan, diskusinya, ‘wedaran’ pengetahuannya dan saran rekomendasinya ke penulis agar melakukan pemantauan ulang di musim kemarau dimana jejak dan keberadaan macan lebih mudah dijumpai.
  11. Mas Eli dan Cak Johan (Mapensa) atas luangan waktunya menemani penulis mencari blok hutan kawasan Sekopeng (meski kami bertiga) harus berputar-putar mencari jalan setapak yang menjadi ‘pintu’ masuk ke Sekopeng setelah menuruni jurang dengan topografi mirip huruf “V” sedalam +50 meter.
  12. Bapak dan Ibu Petani Pesanggem, yang dengan terbuka dan rela hati berbagi informasi dan pengalaman tentang kesaksian perjumpaan dengan macan lareng, macan tol-tol, macan kombeng, macan rembah dan ular piton serta satwa liar lainnya yang sebenarnya telah mengendap diingatan Bapak-Ibu namun dituturkan juga kepada kami. Semoga satwa liar tersebut masih menghuni hutan lindung di halaman Bapak dan Ibu Pesanggem.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak